Menu
A Bajo man paddling a wooden canoe at dusk in Jaya Bakti, Pagimana, near Luwuk

Suku Bajo Berasal dari Mana? Asal, Kemampuan Menyelam, dan Kampungnya di Banggai

Suku Bajo adalah masyarakat bahari yang menyebut diri mereka Sama dan tinggal di pesisir Indonesia, Malaysia, dan Filipina; di Indonesia saja mereka tersebar di 14 provinsi. Penelitian genetika 2017 menelusuri leluhur mereka ke Sulawesi bagian selatan, dan studi 2018 di Desa Jaya Bakti, Kabupaten Banggai, menemukan limpa orang Bajo 50 persen lebih besar daripada limpa tetangga mereka yang bertani.

Jaya Bakti berada di Kecamatan Pagimana, sekitar dua sampai tiga jam lewat darat dari Luwuk, kota tempat tim kami bekerja. Setelah jawaban singkat untuk pertanyaan sekolah, kami bahas kampung Bajo yang tercatat di Kepulauan Banggai dan cara berkunjung dengan sopan.

Anak-anak Bajo berjalan di jembatan kayu Desa Sampela, Wakatobi
Anak-anak Bajo di jembatan kayu Desa Sampela, Wakatobi. Foto: BastianKyle, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Suku Bajo berasal dari mana?

Cerita lisan orang Bajo punya beberapa versi. Yang paling sering dikutip menyebut leluhur mereka datang dari Johor di Semenanjung Malaysia, dan nelayan Bajo di Desa Matanga, Banggai Laut, masih menuturkan versi ini kepada peneliti pada 2024. Versi lain, seperti diceritakan seorang tetua adat kepada detikTravel pada 2021, menyebut orang Bajo keturunan prajurit yang diutus raja mencari putrinya yang hilang di laut.

Genetika memberi jawaban yang lebih terukur. Kusuma dan rekan (2017) menganalisis DNA 73 orang Bajo dari Derawan, Kotabaru, dan Kendari. Hasilnya menunjuk satu populasi asal di Sulawesi bagian selatan, dengan campuran leluhur yang sekitar 90 persen terkait Bugis dan 10 persen Papua, yang diperkirakan terjadi pada abad ke-4 Masehi.

Bahasanya meninggalkan jejak lain. Tim yang sama mencatat bahwa bukti linguistik mengarah ke Kalimantan bagian tenggara, dan budaya Bajo diduga menyebar dari sana sekitar abad ke-11.

Suku Bajau atau suku Bajo, apa bedanya

Keduanya nama untuk kelompok yang sama. Orang Bajo umumnya menyebut diri Sama atau a’a Sama, artinya orang Sama. Bajau adalah ejaan yang dipakai di Sabah, Malaysia, termasuk dalam dokumen resmi, sedangkan Bajo adalah sebutan orang Bugis yang kemudian lazim dipakai di seluruh Indonesia timur.

Di Filipina selatan, kelompok yang dulu hidup di perahu menyebut diri Sama Dilaut, dan orang Makassar menyebut mereka Turijene’, orang air. Peneliti memakai istilah gabungan Sama-Bajau.

Suku Bajo tinggal di mana?

Kongres Nasional Sama-Bajau di Luwuk pada Desember 2024 mencatat komunitas ini tersebar di 14 provinsi di Indonesia. Sebagian besar kini tinggal di rumah panggung di atas air dangkal atau di tepi pantai, bukan lagi di perahu. Di luar Indonesia, mereka tinggal di Sabah dan di Kepulauan Sulu, Filipina selatan.

Beberapa kampung Bajo yang paling sering diliput: Torosiaje di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, yang dihuni sejak 1901; Mola dan Mantigola di Wakatobi, Sulawesi Tenggara; dan Desa Bajo di Kecamatan Botang Lomang, Halmahera Selatan, dengan 2.541 jiwa dalam 559 KK. Di Sulawesi Tengah ada Kabalutan di Kabupaten Tojo Una-Una, Jaya Bakti di Pagimana, dan beberapa kampung di Kepulauan Banggai yang kami bahas di bawah.

Kampung Bajo di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, dilihat dari udara
Kampung Bajo di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, dari udara. Foto: Pambudiyoga, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Suku Bajo bisa menyelam berapa lama?

Jawaban singkatnya: berjam-jam setiap hari, tetapi dibagi dalam banyak penyelaman pendek. Tim Erika Schagatay (Diving and Hyperbaric Medicine, 2011) merekam lima penyelam Bajau pemburu ikan di Filipina: mereka berada di bawah air sekitar 60 persen dari waktu menyelam, dengan total menahan napas lebih dari 5 jam sehari.

Penjelasan biologisnya datang dari Banggai. Melissa Ilardo dan rekan dari Universitas Kopenhagen tinggal beberapa bulan di Jaya Bakti, memindai limpa warga Bajo dengan USG, lalu membandingkannya dengan orang Saluan, suku petani tetangga. Hasilnya terbit di jurnal Cell pada April 2018 (volume 173, halaman 569 sampai 580): median ukuran limpa orang Bajo 50 persen lebih besar, juga pada warga Bajo yang tidak pernah menyelam.

Limpa menyimpan sel darah merah kaya oksigen dan memerasnya ke peredaran darah saat menyelam. Tim Ilardo juga menemukan jejak seleksi alam pada gen PDE10A, yang terkait ukuran limpa, dan pada gen BDKRB2, yang memengaruhi refleks menyelam. Sebagian penyelam Bajo mencapai kedalaman lebih dari 70 meter hanya dengan kacamata kayu buatan sendiri.

Angka 13 menit yang sering beredar perlu diluruskan. Itu pengakuan satu penyelam kepada Ilardo, bukan hasil pengukuran, dan para peneliti menyebutnya anekdot. Sebagai pembanding, kebanyakan orang hanya sanggup menahan napas paling lama sekitar satu menit.

Rumah adat, pakaian, makanan khas, dan bahasa suku Bajo

Rumah suku Bajo adalah rumah panggung kayu di atas air dangkal atau di tepi pantai. Di Torosiaje, Gorontalo, sekitar 245 rumah berdiri lebih dari 600 meter dari daratan, di atas tiang setinggi 3 sampai 4 meter yang ditancapkan 1 sampai 3 meter ke dasar laut (Mongabay, 2023). Warga di sana menyebut pondok singgah awal mereka babaroh, yang kemudian berkembang menjadi papondok yang lebih besar.

Rumah panggung, perahu, dan warga di kampung Bajo Torosiaje, Gorontalo
Torosiaje, kampung Bajo di Pohuwato, Gorontalo. Foto: Dianmega, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Dulu tiangnya dari kayu bakau, atapnya rumbia, dan lantainya bambu; kini banyak rumah beratap seng. Di Wakatobi, sebagian rumah berdiri di atas fondasi batu karang setinggi 2 sampai 4 meter yang disusun saat air surut. Kami tidak menemukan satu nama baku rumah adat yang berlaku di semua kampung Bajo.

Sebelum menetap, banyak keluarga Bajo tinggal di perahu. Kajian LIPI oleh Indrawasih dan Antariksa (2003) mencatat lepa di Kepulauan Sulu, perahu lesung tanpa cadik beratap daun nipah untuk satu keluarga. Di Teluk Kendari, orang Bajo membedakan soppe lembara untuk menangkap ikan dan teripang dari soppe rumah untuk tempat tinggal.

Untuk pakaian adat, kami belum menemukan sumber tertulis tepercaya yang menggambarkan busana khas Bajo, jadi kami tidak menyebut namanya. Soal makanan, nelayan Bajo di Monsongan dulu menukar ikan dengan beras, sagu, dan umbi (Mongabay, 2025), dan liputan video detik dari Kepulauan Togean (2023) menyebut beko dan jepa sebagai kuliner Bajo tanpa menjelaskan bahannya.

Orang Bajo menyebut bahasanya baong sama-sama atau bahasa Same; baong berarti bahasa. Kajian LIPI yang sama mencatat bahwa orang Bajo pada umumnya beragama Islam dan menikah secara Islam. Di sebagian kampung masih ada kebiasaan meminta izin sebelum mencari ikan di gugusan karang, dengan melarung sirih pinang dan tembakau ke laut.

A red-roofed Bajau stilt house standing over turquoise shallows in Kabalutan
Rumah panggung Bajo di Kabalutan, Kepulauan Togean. Foto: Benoît Vicart, CC0, via Wikimedia Commons

Suku Bajo di Sulawesi Tengah dan Kepulauan Banggai

Menurut kajian Wahyudi dan Darini (2026), orang Bajo sudah tinggal di Jaya Bakti sejak 1825. Dulu mereka menukar hasil laut dengan pisang dari kebun orang Saluan, dan sampai sekarang desa ini menyambut tamu penting dengan tari Putri Papu yang berangkat dari legenda setempat.

Pada Desember 2024, Luwuk menjadi tuan rumah Kongres Nasional Sama-Bajau, dihadiri peserta dari Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Dua perahu sandeq berlayar sekitar 1.200 km dari Polewali Mandar untuk acara ini. Kongres ditutup dengan Deklarasi Luwuk, yang antara lain menolak diskriminasi terhadap orang Sama-Bajau.

Desa-desa berikut tercatat sebagai kampung Bajo dalam liputan media atau penelitian; kami hanya memasukkan yang sumbernya jelas.

DesaKecamatan, kabupatenYang tercatat
Jaya BaktiPagimana, Banggai (daratan)Lokasi studi limpa 2018; dihuni orang Bajo sejak 1825
KalumbatanTotikum Selatan, Banggai Kepulauan (Peleng)Sedikitnya 119 nelayan gurita; pindah ke darat setelah gempa
PopisiBanggai Utara, Banggai LautSekitar 70 nelayan gurita; penutupan gurita 2018 sampai 2019
MonsonganBanggai Selatan, Banggai LautMenetap sejak awal 1940-an; tradisi babangi
Tinakin LautBanggai, Banggai LautPenelitian pendidikan anak Bajo, 2024
MatangaBanggai LautPenelitian nelayan Bajo yang juga berkebun, 2024

Kalumbatan, kampung Bajo di Peleng

Kalumbatan masuk Kecamatan Totikum Selatan, Banggai Kepulauan, tetapi letaknya lebih dekat ke Banggai Laut: Mongabay (2024) menyebut 20 menit naik speedboat dari dermaga Banggai Laut, dengan tarif sekitar Rp70.000. Warganya dulu tinggal di atas laut dan menolak direlokasi, lalu membangun kampung di darat secara swadaya setelah gempa dan tsunami sekitar tahun 2000 (tesis UGM, 2012).

Sedikitnya 119 nelayan di sana memancing gurita dengan dua alat yang tidak merusak karang: cipo, pancing berbentuk kepiting dengan sembilan mata kail, dan si manis, umpan tiruan gurita betina. Pada pertengahan 2024 gurita kelas A dihargai sekitar Rp45.000 per kg di tingkat nelayan.

Popisi, Monsongan, dan Tinakin Laut di Banggai Laut

Popisi di Kecamatan Banggai Utara adalah desa Bajo dengan sekitar 70 nelayan gurita. Dari 14 Oktober 2018 sampai 14 Januari 2019, desa ini menutup perairan Pulau Asasal seluas 300 hektare dari penangkapan gurita, penutupan sementara pertama di sana. Jangan tertukar dengan Bukit Popisi di gugusan Bokan Kepulauan, dekat danau ubur-ubur di Mbuang-Mbuang.

Di Monsongan, Kecamatan Banggai Selatan, orang Bajo menetap sejak awal 1940-an. Nelayannya masih menjalankan babangi, melaut berhari-hari dalam rombongan lima sampai enam perahu, kini paling lama 15 hari, dengan bermalam di pondok babaroh di atol.

Tinakin Laut di Kecamatan Banggai menjadi lokasi penelitian Universitas Negeri Gorontalo (2024) tentang pendidikan anak Bajo, dan nelayan Bajo di Desa Matanga diteliti pada Juli sampai Agustus 2024 karena kini juga berkebun cengkih dan kelapa. Kami belum menemukan sumber tertulis yang menyebut Bone Baru atau Mbuang-Mbuang sebagai kampung Bajo, jadi keduanya tidak kami masukkan.

5 HARI · 4 MALAM · BANGGAI LAUT & PAISU POK

Paket Kepulauan Banggai: Terumbu, Capungan & Danau Biru

Feri sore ke Salakan, pantai-pantai Banggai Laut, penyeberangan Tobing, dan Paisu Pok saat fajar. Perahu, kamar, dan makan sudah diatur.
MULAI Rp 7,35jt / orang · rombongan 4 orang
Lihat Paket Ini →
Pesan langsung · Harga terbaik dijamin

Etika berkunjung ke kampung Bajo

Kampung-kampung ini permukiman nelayan tanpa loket. Mongabay (2018) mencatat orang Bajo kerap dicap pelaku bom ikan, padahal di Kalumbatan dan Popisi justru nelayan Bajo yang menjalankan penutupan gurita. Enam aturan sederhana untuk tamu:

  1. Lapor dulu ke kepala desa atau ketua RT, idealnya ditemani warga yang dikenal di kampung itu.
  2. Minta izin sebelum memotret orang, terutama anak-anak. Teras rumah panggung adalah ruang keluarga; jangan naik tanpa diundang.
  3. Jangan membagikan uang atau permen kepada anak. Kalau ingin membantu, beli ikan atau gurita dengan harga wajar, atau titipkan buku tulis lewat sekolah.
  4. Pakai baju yang menutup bahu dan lutut selama di kampung. Pakaian renang cukup dipakai di perahu atau di pantai.
  5. Tanyakan perairan mana yang sedang ditutup untuk gurita, biasanya selama sekitar tiga bulan, dan jangan snorkeling atau memungut apa pun di sana.
  6. Jangan membeli capungan banggai, penyu, atau kima. Capungan banggai, ikan endemik kepulauan ini, berstatus terancam punah.

Musim juga menentukan siapa yang Anda temui. Nelayan Popisi menyebut Desember sampai Maret sebagai puncak musim gurita, dan saat babangi kaum laki-laki Monsongan bisa dua minggu tidak pulang.

Memasukkan kampung Bajo ke perjalanan Banggai

Kalau Anda masuk dari darat, Jaya Bakti satu kecamatan dengan Pelabuhan Pagimana, tempat feri malam dari Gorontalo bersandar. Di paket Luwuk dan Gorontalo 6 hari kami, kapal tiba di Pagimana sekitar pukul 06.00, lalu perjalanan darat sekitar dua sampai tiga jam ke Luwuk. Jaya Bakti belum masuk itinerary standar, jadi sampaikan saat memesan bila ingin singgah.

Untuk Kalumbatan, rutenya lewat Peleng: feri ke Salakan, mobil sekitar satu jam ke selatan, lalu menyeberang ke Kota Banggai dari dermaga Tobing atau Kalumbatan. Kapal dan homestay di pulau itu ada di panduan Pulau Peleng kami; untuk Popisi, Monsongan, dan pantai-pantai di sekitar Kota Banggai, pakai panduan lengkap Banggai Laut.

Datanglah antara Mei dan Oktober; September dan Oktober biasanya paling tenang, sedangkan Desember sampai Februari perahu ke pulau kecil sering batal.

Belum ada tiket masuk kampung Bajo di Banggai; anggaran perahu, sopir, dan penginapan kami rinci di rincian biaya liburan ke Banggai. Dari luar Sulawesi, lihat rute penerbangan ke Luwuk.

Foto sampul: Shalim t.ry, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons. Diambil di Jaya Bakti, Pagimana.

Suku Bajo berasal dari mana?

Bukti genetika menunjuk Sulawesi bagian selatan. Studi Kusuma dan rekan tahun 2017 atas 73 orang Bajo dari Derawan, Kotabaru, dan Kendari menemukan satu populasi asal di sana, dengan campuran leluhur yang terkait Bugis dan Papua. Bahasanya justru diduga berasal dari Kalimantan tenggara, sedangkan cerita lisan banyak kampung menyebut Johor.

Suku Bajo tinggal di mana?

Di Indonesia, orang Bajo tersebar di 14 provinsi, terutama di pesisir Sulawesi, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, dan Maluku Utara. Sebagian besar kini tinggal di rumah panggung di atas air dangkal atau di tepi pantai. Di luar Indonesia, komunitas Sama-Bajau ada di Sabah, Malaysia, dan Kepulauan Sulu, Filipina.

Suku Bajo bisa menyelam berapa lama?

Penyelam Bajau yang diteliti Schagatay pada 2011 berada di bawah air sekitar 60 persen dari waktu kerja, totalnya lebih dari lima jam sehari, dalam banyak penyelaman pendek. Cerita tentang 13 menit sekali selam hanyalah pengakuan satu orang, belum pernah diukur. Sebagian penyelam mencapai kedalaman lebih dari 70 meter.

Apa bedanya suku Bajau dan suku Bajo?

Tidak ada bedanya. Bajau adalah ejaan yang dipakai di Sabah dan dalam literatur berbahasa Inggris, sedangkan Bajo adalah sebutan dari orang Bugis yang lazim di Indonesia. Mereka sendiri biasanya menyebut diri Sama. Peneliti memakai istilah gabungan Sama-Bajau untuk seluruh kelompok di tiga negara itu.

Apakah ada suku Bajo di Banggai?

Ada. Di daratan, Desa Jaya Bakti di Kecamatan Pagimana dihuni orang Bajo sejak 1825 dan menjadi lokasi studi limpa tahun 2018. Di kepulauan, media dan peneliti mencatat Kalumbatan di Peleng serta Popisi, Monsongan, Tinakin Laut, dan Matanga di Banggai Laut. Sebagian besar warganya nelayan gurita dan ikan karang.

Apa rumah adat suku Bajo?

Rumah adat suku Bajo berupa rumah panggung kayu yang berdiri di atas air dangkal atau di tepi pantai, bertumpu pada tiang kayu bakau atau fondasi batu karang. Di Torosiaje, Gorontalo, tiangnya setinggi 3 sampai 4 meter. Sebelum menetap, banyak keluarga Bajo tinggal di perahu seperti lepa dan soppe.