Makanan khas Luwuk Banggai berpusat pada umbi, sagu, kelapa dan ikan: ubi Banggai yang direbus sebagai pengganti nasi, sinole dari sagu yang disantap bersama ikan bakar, sampai kanjoli, gorengan singkong berisi ikan. Untuk oleh-oleh, yang paling khas adalah ubi Banggai sendiri, baik segar maupun dalam bentuk keripik.
Banyak hidangan ini berasal dari Banggai Kepulauan dan Banggai Laut, wilayah pulau di seberang Luwuk. Di Kota Luwuk Anda bisa menemukan sebagian, dan kalau perjalanan berlanjut ke Pulau Peleng, peluang mencicipi versi rumahannya jauh lebih besar.
Apa itu ubi Banggai?
Ubi Banggai adalah sejenis uwi (Dioscorea alata), umbi yang sejak lama menjadi makanan pokok di Banggai Kepulauan, terutama di Tomini dan Peling Barat (Mongabay Indonesia, 2021). Bentuknya ada yang memanjang seperti singkong dan ada yang bulat seperti kentang tetapi lebih besar. Rasanya sering dibandingkan dengan kentang.
Jenisnya banyak sekali. BPTP Sulawesi Tengah mencatat 29 aksesi lokal, dengan nama-nama seperti Pusus, Pauateno, Tu Moute, Sombok, Babangi Ungu, Tendetung, Balayon, Amangkul, Apal, Kulaluk dan Solovia. Warna dagingnya beragam, dari putih sampai ungu, jadi ubi Banggai tidak selalu berwarna ungu.

Cerita setempat mengaitkan ubi ini dengan keluarga Raja Ternate yang membawanya ke Banggai Kepulauan, lalu kebiasaan memakannya sebagai makanan pokok terus berlanjut. Sekarang ubi Banggai dijual di lapak-lapak pinggir jalan Trans Banggai, dan kalau Anda ke Pulau Peleng, Anda akan sering melihatnya.
Cara makan ubi Banggai
Cara paling umum adalah direbus, dikukus atau digoreng, lalu dimakan sebagai pengganti nasi bersama ikan dan sayur. Selain itu ada beberapa olahan tradisional:
- Nalum: bubur ubi Banggai yang dimasak dengan santan kelapa dan garam.
- Mongkulua: ubi diserut, dicampur kelapa parut dan garam, dibungkus daun pisang, lalu dikukus.
- Payot: umbi parut yang dicampur santan dan garam, dibungkus daun lalu dimasak. Dinas Pariwisata Banggai Kepulauan mencatat versi dari keladi, sedangkan di Banggai Laut ada versi dari singkong, jadi bahannya bisa berbeda dari satu kampung ke kampung lain.
Penelitian pertanian juga mencatat ubi ini diolah menjadi keripik di Banggai Laut. Karena kadar patinya tinggi, ubi Banggai bisa dijadikan tepung untuk kue.
Makanan khas lain yang patut dicoba
Dinas Pariwisata Banggai Kepulauan mendokumentasikan beberapa hidangan daerah yang bahannya sederhana tetapi rasanya khas.
| Nama | Bahan utama | Biasa disantap dengan |
| Sinole | Sagu dan kelapa parut yang disangrai, lalu dicampur santan, garam dan gula | Ikan bakar dan sambal dabu-dabu |
| Kanjoli | Singkong parut berisi ikan suwir, dibentuk lonjong lalu digoreng | Sambal dabu-dabu |
| Tokoli tikala | Ikan rebus berbumbu dengan tikala (kecombrang) yang memberi rasa asam segar | Lauk sehari-hari di rumah |
| Salanggar | Pisang dan aneka umbi yang dimasak dengan santan, garam dan gula | Kuah ikan asam dan ikan bakar |
| Kukus | Singkong, kelapa parut dan santan, kadang diberi gula merah, dikukus dalam cetakan | Camilan |
| Bete kaluk (kokopa) | Keladi dan santan, dibungkus daun pandan | Camilan |
| Solomunting | Beras dan labu yang dimasak santan menjadi bubur kental berwarna kuning | Sarapan atau camilan |
Kalau hanya sempat mencoba satu, pilih sinole dengan ikan bakar. Itu pasangan paling klasik, dan ikan bakar dengan dabu-dabu mudah ditemukan di Luwuk. Daftar lengkap beserta cara memasaknya ada di halaman makanan khas Dinas Pariwisata Banggai Kepulauan.
Di Banggai Laut ada pula onyob, olahan sagu yang diseduh air panas, dan monyolos dari keladi dan santan. Keduanya jarang muncul di menu kota, jadi kesempatan terbaik mencicipinya adalah saat menginap di rumah warga di pulau.
Makan apa di Kota Luwuk?
Pagi hari, kafe di pusat kota menyajikan bubur Manado hangat atau pisang goreng yang baru diangkat dari wajan. Gorengan di warung harganya sekitar Rp2.000 sampai Rp5.000 per potong (per 2026).
Sore hari, naiklah ke kafe-kafe di Bukit Teletubbies untuk melihat matahari terbenam. Kopi di sana sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000. Untuk makan malam, kawasan tepi laut Teluk Lalong adalah pilihan yang populer.
Kalau Anda menginap di kota sebelum menyeberang ke pulau, lihat juga panduan tempat wisata Luwuk Banggai untuk mengisi sisa hari.
Paket Luwuk & Banggai: Air Terjun & Danau Paisupok
Oleh-oleh Luwuk dari ubi Banggai
- Ubi Banggai segar: cari di lapak pinggir jalan Trans Banggai. Umbi utuh lebih tahan dibawa jauh daripada olahan basah.
- Keripik ubi Banggai: ringan dan awet, paling praktis untuk dibawa naik pesawat.
- Olahan kering lain: pelatihan Kementerian Pertanian di Banggai mengajarkan pengolahan ubi ini menjadi stik dan bolu kering, jadi tanyakan produk seperti itu di toko oleh-oleh.
Saat membeli produk kemasan, periksa komposisinya untuk memastikan memang dibuat dari ubi Banggai, lalu cek tanggal produksi dan kondisi segelnya. Kalau membawa umbi segar naik pesawat, cek dulu aturan bagasi maskapai Anda.
Ingin mencicipi ubi Banggai di tempat asalnya? Kalau Anda ikut tur kami ke Danau Paisu Pok di Pulau Peleng, sebutkan di pesan WhatsApp bahwa Anda ingin mencoba masakan lokal, dan kami carikan tempat makan atau tuan rumah yang bisa menyiapkannya.
Foto sampul: sinole dengan ikan bakar. Si Gam, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Ubi Banggai adalah sejenis uwi (Dioscorea alata) yang sejak lama menjadi makanan pokok di Banggai Kepulauan, terutama Pulau Peleng. Bentuknya ada yang memanjang dan ada yang bulat, warna dagingnya putih sampai ungu, dan rasanya mirip kentang. BPTP Sulawesi Tengah mencatat 29 aksesi lokal dengan nama yang berbeda-beda.
Cara paling umum adalah direbus, dikukus atau digoreng, lalu dimakan sebagai pengganti nasi. Olahan tradisionalnya antara lain nalum, bubur ubi dengan santan dan garam, serta mongkulua, ubi serut dengan kelapa yang dibungkus daun pisang lalu dikukus. Di Banggai Laut, ubi ini juga dibuat menjadi keripik.
Selain ubi Banggai, ada sinole dari sagu dan kelapa yang disantap dengan ikan bakar, kanjoli dari singkong berisi ikan suwir, tokoli tikala berupa ikan berkuah asam kecombrang, salanggar, kukus, bete kaluk dan solomunting. Sebagian besar hidangan ini berasal dari Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.
Yang paling khas adalah ubi Banggai segar dari lapak pinggir jalan Trans Banggai dan keripik ubi Banggai yang ringan dan awet. Olahan kering seperti stik dan bolu kering dari ubi Banggai juga bisa dicari di toko oleh-oleh. Periksa komposisi, tanggal produksi dan kondisi kemasan sebelum membeli.
Sinole adalah olahan sagu dan kelapa parut yang disangrai, lalu dicampur sedikit santan, garam dan gula sampai berbutir. Hidangan ini biasanya disantap bersama ikan bakar dan sambal dabu-dabu, dan menjadi salah satu makanan khas Banggai Kepulauan yang paling dikenal. Rasanya gurih dengan sedikit manis dari gula.

