Danau Tendetung adalah danau musiman di Pulau Peleng, di Kecamatan Totikum Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, yang wilayahnya mencakup tiga desa: Peley, Kanali, dan Tobungku. Dari Salakan jaraknya sekitar 55 km, kira-kira 1,5 jam dengan mobil atau motor, dan orang biasanya masuk lewat Desa Peley.
Yang membuat danau ini lain dari danau mana pun di Bangkep adalah airnya yang naik dan turun. Pada bulan-bulan tertentu ia berupa danau sepanjang 2,5 km. Pada bulan lain airnya surut dan yang tersisa adalah alur berkelok-kelok di dasar lembah, yang oleh warga disebut 101 Kelokan. Dua wajah itu sama-sama layak dilihat, tetapi Anda perlu tahu yang mana yang sedang menunggu sebelum menempuh perjalanan.
Danau Tendetung sekilas
| Lokasi | Desa Peley, Kanali, dan Tobungku, Kecamatan Totikum Selatan, Banggai Kepulauan (Pulau Peleng) |
| Ukuran | Panjang sekitar 2,5 km, lebar 600 sampai 800 meter saat air penuh |
| Jarak | Sekitar 55 km atau 1,5 jam dari Salakan |
| Cara ke sana | Mobil dengan sopir atau motor sewaan dari Salakan |
| Biaya | Mobil dengan sopir Rp 1.000.000 sampai 1.500.000 per hari; tarif masuk resmi tidak kami temukan |
| Waktu terbaik | Tergantung tinggi air; tanyakan dulu ke warga atau sopir |
Lokasi Danau Tendetung: di desa apa dan kecamatan mana
Dinas Pariwisata Banggai Kepulauan mencatat danau ini berada di Kecamatan Totikum Selatan dan mencakup wilayah tiga desa, yaitu Peley, Kanali, dan Tobungku. Jadi jawaban untuk “di desa apa” bukan satu nama. Titik masuk yang paling sering dipakai pengunjung adalah Peley, sedangkan Kanali adalah desa yang disebut dalam legendanya.
Totikum Selatan ada di bagian selatan Peleng, jauh dari Danau Paisu Pok yang berada di pesisir barat. Kedua danau ini tidak bisa digabung dalam satu hari. Tendetung lebih cocok dipasangkan dengan tempat lain di sisi Salakan, misalnya Pantai Mandel di Totikum.
Cara ke Danau Tendetung dari Luwuk dan Salakan
Peleng adalah pulau di seberang selat dari Luwuk, jadi langkah pertama selalu kapal. Untuk Tendetung, kapal yang benar adalah feri sore Luwuk ke Salakan, sekitar 3,5 sampai 4 jam dengan tarif kira-kira Rp 75.000, bukan kapal kayu ke Leme-Leme yang dipakai untuk Paisu Pok. Hari dan jam berangkatnya kami perbarui di jadwal kapal dari Luwuk.
Dari Salakan, sewa mobil dengan sopir atau motor. Jaraknya sekitar 55 km dan memakan kira-kira 1,5 jam. Kabarnya ada dua jalur menuju tepi danau dan keduanya bisa dilalui mobil, tetapi jalur yang lewat kampung menyempit menjadi jalan berbatu selebar satu mobil. Kalau hujan baru turun, tanyakan kondisi jalan itu kepada sopir sebelum berangkat.
Kami tidak menemukan angkutan umum terjadwal ke danau. Mobil dengan sopir di Peleng berkisar Rp 1.000.000 sampai 1.500.000 untuk sehari penuh, dan angka itu lebih masuk akal kalau hari yang sama juga dipakai untuk satu atau dua pantai.
Danau yang berubah bentuk: air penuh dan 101 Kelokan
Saat air naik, Tendetung terlihat seperti danau biasa di antara bukit: panjang sekitar 2,5 km, lebar 600 sampai 800 meter. Saat surut, air menyusut ke alur sungai yang meliuk di dasar lembah, dan dari ketinggian liukan itu terlihat jelas satu per satu. Itulah yang disebut warga 101 Kelokan. Angka 101 tidak perlu dihitung; maksudnya banyak sekali.
Sumber yang kami baca tidak sepakat soal bulan pastinya. Ada yang menulis danau melebar di musim hujan dan menyusut di musim kemarau, sementara dinas pariwisata hanya menyebut “bulan-bulan tertentu”. Karena itu jangan mengandalkan kalender: minta sopir atau pemilik penginapan di Salakan menelepon kenalannya di Peley sehari sebelumnya.
Kalau Anda membawa drone, wajah surut adalah yang paling menarik difoto, karena kelokannya hanya terbaca dari atas. Dari tepi danau, wajah penuh lebih enak dinikmati.
Legenda Danau Tendetung: cerita Sundano dan Kokiap
Ini cerita rakyat setempat, dituturkan dari mulut ke mulut dan dimuat juga oleh dinas pariwisata kabupaten. Di Kanali, kata cerita itu, hidup dua anak muda bernama Sundano dan Kokiap yang saling mencintai. Keluarga mereka menentang hubungan itu. Keduanya lalu melarikan diri dengan perahu, dan lekuk-lekuk yang muncul ketika air danau surut dipercaya sebagai bekas jalur perahu mereka.
Versinya tidak tunggal. Satu tulisan menambahkan bahwa keduanya menjelma menjadi dua mata air yang mengisi danau, dan ejaan nama Kokiap kadang ditulis Kekiap. Kami tidak menemukan catatan sejarah tertulis yang menjelaskan asal-usul danau ini, jadi kalau Anda mencari “sejarah Danau Tendetung”, yang ada adalah cerita ini. Tanyakan kepada orang tua di Peley atau Kanali; biasanya mereka senang menceritakannya dengan versi mereka sendiri.
Apa yang bisa dilakukan di danau
Jangan berharap wahana. Tendetung adalah tempat untuk melihat, berjalan di tepinya, dan duduk lama. Warga memancing mujair di sini, dan saat air surut kabarnya muncul ikan kecil yang mereka sebut ikan telendek.
Beberapa tahun lalu di tepi danau dibangun gazebo dan wahana bebek kayuh. Kami tidak bisa memastikan kondisinya sekarang, jadi anggap saja bonus kalau masih ada. Sebagian pengunjung berkemah di tepi danau saat air surut, dan kabarnya tenda bisa disewa di Salakan.
Satu jam di danau biasanya cukup, dua jam kalau Anda menerbangkan drone atau mengobrol dengan warga. Sisanya pakai untuk pantai.
Paket Luwuk & Banggai: Air Terjun Biru & Snorkeling
Menginap dan makan
Kami tidak menemukan penginapan di tepi danau. Basis yang masuk akal adalah Salakan, dengan wisma seharga Rp 250.000 sampai 350.000 per malam. Pilihannya kami bandingkan di panduan penginapan di Kepulauan Banggai.
Bawa bekal dan air minum dari Salakan. Kami tidak punya informasi pasti soal warung di sekitar danau, jadi jangan bergantung padanya.
Menggabungkan Tendetung dengan rute ke Banggai Laut
Dermaga Tobing, tempat speedboat bersama menyeberang ke Kota Banggai dalam sekitar 30 menit dengan tarif sekitar Rp 80.000, juga berada di bagian selatan Peleng. Sebagian pengunjung menyinggahi Tendetung dalam perjalanan ke sana. Tanyakan kepada sopir berapa lama tambahan waktunya, dan ingat speedboat bersama terakhir berangkat sekitar pukul 17.00. Apa yang menunggu di seberang kami tulis di panduan Banggai Laut.
Trip kami privat, jadi Anda bisa menanyakan apakah persinggahan seperti ini bisa diselipkan ke rute Anda. Contohnya paket 5 hari Kepulauan Banggai kami, yang memang melintasi Peleng menuju Tobing.
Tips praktis
- Tanyakan tinggi air sebelum berangkat. Ini satu-satunya hal yang menentukan apa yang akan Anda lihat.
- Siapkan uang tunai pecahan kecil. Tarif masuk resmi tidak kami temukan, tetapi sumbangan parkir atau kebersihan di tempat seperti ini lazim.
- Bawa topi dan air. Tepi danau terbuka dan panas di tengah hari.
- Kalau menerbangkan drone, minta izin dulu kepada warga atau kepala desa yang Anda temui.
- Jalan kaki di dasar danau saat surut bisa berlumpur. Pakai sandal gunung, bukan sepatu putih.
Gambaran pulau secara keseluruhan, termasuk kenapa pesisir barat dan sisi Salakan sebaiknya direncanakan sebagai dua bagian terpisah, ada di panduan Pulau Peleng kami.
Danau Tendetung mencakup wilayah tiga desa di Kecamatan Totikum Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan: Peley, Kanali, dan Tobungku. Pengunjung biasanya masuk lewat Desa Peley, sedangkan Kanali adalah desa yang disebut dalam legendanya. Danau ini berada di Pulau Peleng, sekitar 55 km dari Salakan, ibu kota kabupaten.
Lokasinya di bagian selatan Pulau Peleng, Sulawesi Tengah. Dari Luwuk naik feri sore ke Salakan, sekitar 3,5 sampai 4 jam, lalu sewa mobil dengan sopir atau motor dan berkendara kira-kira 1,5 jam. Kami tidak menemukan angkutan umum terjadwal ke danau, jadi kendaraan sewaan adalah pilihan yang realistis.
Menurut cerita rakyat setempat, Sundano dan Kokiap dari Kanali saling mencintai tetapi ditentang keluarga, lalu melarikan diri dengan perahu. Kelokan yang terlihat saat air surut dipercaya sebagai bekas jalur perahu mereka. Ada versi yang menyebut keduanya menjelma menjadi dua mata air danau. Ini cerita lisan, jadi detailnya berbeda antarpenutur.
Saat air danau sedang surut, ketika alur sungai yang berliku di dasar lembah terlihat jelas dari ketinggian. Bulan pastinya tidak konsisten di berbagai sumber, dan dinas pariwisata hanya menyebut bulan-bulan tertentu. Cara paling aman adalah menanyakan kondisi air kepada warga Peley atau sopir Anda sehari sebelum berangkat dari Salakan.
Tidak dalam satu hari. Paisu Pok ada di pesisir barat Peleng, sedangkan Tendetung di bagian selatan, dan Salakan saja sudah sekitar tiga jam lewat darat dari Paisu Pok. Tendetung lebih cocok digabung dengan Pantai Mandel atau dengan perjalanan ke dermaga Tobing untuk menyeberang ke Banggai Laut.

